Index

Selasa, 23 Agustus 2011

LINGUISTIK SEBAGAI ILMU



Pada bab pertama sudah disebutkan bahwa linguistik adalah ilmu yang mengambil bahasa sebagai objek kajiannya.
2.1 KEILMIAHAN LINGUISTIK
Sebelum membicarakan keilmiahan linguistik ada baiknya dibicarakan dulu tahap-tahap perkembangan yang pernah terjadi dalam setiap disiplin ilmu. Pada dasarnya setiap ilmu, termasuk juga ilmu linguistik, telah mengalami tiga tahap perkembangan sebagai berikut.
·         Tahap pertama, yakni tahap spekulasi. Dalm tahap ini pembicaraan mengenai sesuatu dan cara mengambil kesimpulan dilakukan dengan cara spekulatif. Artinya, kesimpulan itu dibuat tanpa didukung oleh bukti-bukti empiris dan dilaksanakan tanpa menggunakan prosedur-prosedur tertentu. Misalnya, dalam bidang geografi dulu orang berpendapat bahwa bumi ini berbentuk datar seperti meja. Kalau `ditanya apa buktinya, atau bagaimana cara membuktikannya, tentu tidak dapat dijawab, atau kalaupun dijawab akan spekulatif pula.
·         Tahap kedua, adalah tahap observasi dan klasifikasi. Pada tahap ini para ahli di bidang bahasa baru mengumpulkan dan menggolong-golongkan segala fakta bahasa dengan teliti tanpa memberi teori atau kesimpulan apapun.. Bahasa-bahasa di nusantara didaftarkan, ditelaah ciri-cirinya, lalu dikelompok-kelompokkan berdasarkan kesamaan-kesamaan ciri
·         Tahap ketiga, adalah tahap adanya perumusan teori. Pada tahap ini setiap disiplin ilmu berusaha memahami masalah-masalah dasar dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai masalah-masalah itu berdasarkan data empiris yang dikumpulkan.
Linguistik sangat mementingkan data empiris dalam melaksanakan penelitiannya.  Itulah sebanya,bidang semantik tidak atau kurang mendapat perhatian dalam linguistik strukturalis dulu karena makna, yang menjadi objek semantik, tidak dapat diamati secara empiris, tidak seperti fonem dalam fonologi  atau morfem dan kata dalam morfologi. Kegiatan linguistik tidak boleh “dikotori” oleh pengetahuan si peneliti. Kegiatan empiris biasanya bekerja secara induktif dan deduktif dengan beruntun. Artinya, kegiatan itu dimulai dengan mengumpulkan data empiris. Data empiris itu dianalisis dan diklasifikasikan. Lalu, ditarik suatu kesimpulan umum berdasarkan data empiris itu.
Kesimpulan ini biasanya disebut kesimpulan induktif. Tetapi kalau kemudian kata sangat dapat juga mewakili kata-kata seperti berhasil, pemalu dan mengecewakan, maka sebenarnya bisa ditarik dua kesimpulan yang berbeda. Pertama , kata-kata berhasil , pemalu, dan mengecewakan itu termasuk kelas ajektifa karena memenuhi kesimpulan umum yang telah ada sebelumnya. Kedua, kesimpulan umum yang trelah dibuat sebelumnya itu belum menyimpulkan hakikat ajektifa yang sebenarnya. Artinya, dapat tidaknya diawali dengan kata sangat itu bukan merupakan hakikat ajektifa yang sebenarnya. Mungkin saja ada hakikat ajektifa yang lebih hakiki.
Secara induktif, mula-mula dikumpulkan data-data khusus, lalu dari kata-kata khusus itu ditarik kesimpulan umum. Secara deduktif adalah kebalikannya. Namun, kebenaran kesimpulan deduktif ini sangat tergantung pada kebenaran kesimpulan umum, yang lazim disebut premis mayor.
Contoh: Premis Mayor                    : Semua mahasiswa luusan SMA
                Premis Minor                     : Nita seorang mahasiswa
    Kesimpulan deduktif        : Nita adalah lulusan SMA
Jelas, kesimpulan deduktif “Nita adalah lulusan SMA” adalah tidak benar, meskipun cara penarikan kesimpulan benar dan sah. Mengapa?  sebab dalam kenyataan tidak semua mahasiswa adalah lulusan SMA. Sebagai ilmu empiris lingustik berusaha mencari keteraturan atau kaidah-kaidah yang hakiki dari bahasa yang ditelitinya. Karena itu, linguistik sering juga disebut ilmu nomotentik. Ciri-ciri bahasa dijabarkan sebagai berikut:
·         Pertama, karena bahasa adalan bunyi ujaran ,maka linguistik melihat bahasa sebagai bunyi. Artinya bagi  linguistik bahasa lisan adalah bahasa yang primer, sedangkan bahasa tulis adalah bahasa sekunder.

·         Kedua, karena bahasa itubersifat unik, maka linguistik tidak berusaha menggunakan kerangka suatu bahasa/dikenakan pada bahasa lain. Misalnya, dulu banyak ahli bahasa yang meneliti bahasa-bahasa Indonesia dengan menggunakan kerangka atau konsep yang berlaku dalam bahasa Latin, Yunani, Arab, sehingga kita kini mewarisi konsep-konsep yang tidak cocok untuuk di Indonesia, seperti konsep kata majemuk, konsep tekanan kata, dan konsep artikulus.


·         Ketiga, karena bahasa adalah suatu sistem, maka linguistik mendekati bahasa bukan sebagai unsur yang terlepas, melainkan sebagai kumpulan unsur yang satu dengan yang lain mempunyai jaringan hubungan. Pendekatan yang melihat bahasa sebagai kumpulan unsur yang saling berhubungan, atau sebagai sistem itu, disebut pendekatan struktural. Lawannya, disebut pendekatan atomistis, yaitu yang melihat bahasa sebagai kumpulan unsur-unsur yang terlepas, yang berdiri sendiri-sendiri.
·         Keempat, karena bahasa itu dapat berubah dari waktu ke waktu, sejalan dengan perkembangan sosial budaya masyarakat pemakainya, maka linguistik memperlakukan bahasa sebagai sesuatu yang dinamis. Linguistik dapat mempelajari bahasa secara sinkronik dan diakronik. Secara sinkronik artinya, mempelajari bahasa dengan berbagai aspeknya pada waktu atau kurun waktu yang tertentu atau terbatas. Studi sinkronik ini bersifat deskriptifkarena linguistik hanya mencoba memberikan keadaan bahasa itu menurut apa adanya pada kurun waktu yang terbatas itu. Secara diakronik, artinya, mempelajari bahasa dengan berbagai aspeknya dan perkembangannya dari waktu ke waktu, sepanjang kehidupan bahasa itu disebut studi historis komparatif.

·         Kelima, karena sifat empirisnya, maka linguistik mendekati bahasa secara deskriptif dan tidak secara preskriptif. Artinya, yang penting dalam linguistik adalah apa yang sebenarnya diungkapkan oleh seseorang (sebagai data empiris) dan bukan apa yang menurut si peneliti seharusnya diungkapkan.
            Contoh           : -    Yang benar adalah kata silakan, bukan silahkan.
-          Yang baku adalah bentuk kata mengubah, bukan merubah atau merobah.
2.2 SUBDISIPLAN LINGUISTIK
            Setiap disiplan ilmu biasanya dibagi atas bidang-bidang bawahan (subdisiplin) atau cabang-cabang berkenaan dengan adanya hubungan disiplin dengan masalah-masalah lain. Misalnya ilmu kimia dibagi atas kimia organik dan kimia anorganik. Pembagian atau percabangan itu diadakan tentunya karena objek yang menjadi kajian disiplin ilmu itu sangat luas atau menjadi luas karena perkembangan dunia ilmu. Demikian pula dengan linguistik. Mengingat bahwa objek linguistik, yaitu bahasa, merupakan fenomena yang tidak dapat dilepaskan dari segala kegiatan manusia bermasyarakat.. Dalam buku ini kita akan mencoba mengelompokkan nama-nama subdisiplin linguistik itu berdasarkan :
·         Objek kajiannya adalah bahasa pada umumnya atau bahasa tertentu.
·         Objek kajiannya adalah bahasa pada masa tertentu atau bahasa sepanjang masa.
·         Objek kajiannya adalah struktur internal bahasa itu atau bahasa itu dalam kaitannya dengan berbagai faktor di luar bahasa.
·         Tujuan pengkajiaanya apakah untuk keperluan  teori belaka atau untuk tujuan terapan, dan
·         Teori atau aliran yang digunakan untuk menganalisis objeknya.

2.2.1 Berdasarkan objek kajiannya, apakah bahasa pada umumnya atau bahasa tertentu dapat dibedakan adanya linguistik umum dan linguistik khusus
Linguistik umum adalah linguistick yang berusaha mengkaji kaidah-kaidah bahasa secara umum. Sedangkan linguistik khusus berusaha mengkaji kaidah-kaidah bahasa yang berlaku pada bahasa tertentu, seperti bahasa Inggris, bahasa Indonesia, dan bahasa Jawa. Kajian umum dan khusus ini dapat dilakukan terhadap keseluruhan sistem bahasa atau juga hanya pada satu tataran dari sistem bahasa itu.
2.2.2 Berdasarkan objek kajiannya, apakah bahasa pada masa tertentu atau bahasa sepanjang masa dapat dibedakan adanya linguistik sinkronik dan linguistik diakronik
            Linguistik sinkronik mengkaji bahasa pada masa yang terbatas. Misalnya, mengkaji bahasa Indonesia pada tahun dua puluhan, bahasa Jawa dewasa ini, atau juga bahasa Inggris pada zaman William Shakespare. Linguistik deskriptif, artinya mendeskripsikan bahasa secara apa adanya pada suatu masa tertentu. Linguistik diakronik berupaya mengkaji bahasa (atau bahasa-bahasa) pada masa yang tidak terbatas. Kajian linguistik diakronik ini biasanya bersifat historis dan komparatif. Tujuan linguistik diakronik ini terutama adalah untuk mengetahui sejarah struktural bahasa itu beserta dengan segala bentuk perubhan dan perkembangannya. Pernyataan seperti “kata batu berasal dari kata watu”adalah pernyataan yang bersifat diakronik.
2.2.3 Berdasarkan objek kajiannya, apakah struktur internal bahasa atau bahasa itu dalam hubungannya dengan faktor-faktor di luar bahasa dibedakan adanya linguistik mikro dan linguistik makro (Dalam kepustakaan lain disebut mikrolinguistik dan makrolinguistik)
Linguistik mikro mengarahkan kajiannya pada struktur internal suatu bahasa tertentu atau struktur internal suatu bahasa pada umumnya. Morfologi dan sintaksis dalam peristilahan tata bahasa tradisional biasanya berada dalam satu bidang yaitu gramatika atau tata bahasa. Semantik menyelidiki makna bahasa baik yang bersifat leksikal, gramatikal, maupun kontekstual.. Studi linguistik mikro ini sesungguhnya merupakan studi dasar linguistik sebab yang dipelajari adalah struktur internal bahasa itu.
Sedangkan linguistik makro, yang menyelidiki bahasa dalam kaitannya dengan factor-faktor di luar bahasa. Semua subdisiplin itu bisa bersifat teoretis maupun bersifat terapan. Sosiolinguistik adalah subdisiplin linguistik yang mempelajari bahasa dalam hubungan pemakaiannya di masyarakat. Sosiolinguistik ini merupakan ilmu interdisipliner antara sosiologi dan linguistik.. Psikolinguistik adalah subdisiplin linguistik yang mempelajari hubungan bahasa dengan perilaku dan akal budi manusia. Antropolinguistik adalah subdisiplin linguistik yang mempelajari hubungan bahasa dengan budaya dan pranata budaya manusia.
Stilistika adalah subdisiplin linguistik yang mempelajari bahasa yang digunakan dalam bentuk-bantuk karya sastra. Filologi adalah subdisiplin linguistik yang mempelajari bahasa, kebudayaan, pranata, dan sejarah satu bangsa sebagaimana terdapat dalam bahan-bahan tertulis. Bahan atau teks yang dikaji biasanya adalah naskah kuno atau naskah klasik. Filsafat bahasa merupakan subdisiplin linguistik yang mempelajari kodrat hakiki dan kedudukan bahasa sebagai kegatan manusia. Dialektologi adalah subdisiplin linguistik yang memepelajari batas-batas dialek dan bahasa dalam suatu wilayah tertentu.
2.2.4 Berdasarkan tujuannya, apakah penyelidikan linguistik itu semata-mata untuk merumuskan teori  ataukah untuk diterapankan  dalam kehidupan sehari-hari bisa dibedakan adanya linguistik teoretis dan linguistik terapan.
Linguistik teoretis berusaha mengadakan penyelidikan terhadap bahasa atau bahasa-bahasa, atau juga terhadap hubungan bahasa dengan faktor-faktor yang berada di luar bahasa hanya untuk menemukan  kaidah -kaidah yang berlaku dalam objek kajiannya itu. Berbeda dengan linguistik terhadap bahasa atau bahasa atau hubungan bahasa dengan faktor-faktor di luar bahasa untuk kepentingan memecahkan masalah-masalah praktis yang terdapat di masyarakat.
2.2.5 Berdasarkan aliran atau teori yang digunakan dalam penyelidikan bahasa dikenal adanya linguistik tradisional, linguistik struktural, linguistik transformasional, linguistik generatif semantik, linguistik relasional, dan linguistik sistemik.
            Di luar bidang atau cabang yang sudah dibicarakan di atas masih ada di bidang lain, yaitu yang menggeluti sejarah linguistik. Dari uraian di atas kita lihat betapa luasnya bidang, cabang, atau subdisiplin linguistik itu. Ini terjadi karena objek linguistik itu, yaitu bahasa, memang mempunyai jangkauan hubungan yang sangat luas di dalam kehidupan manusia. Dulu sebelum ada kegiatan dengan komputer belum ada cabang linguistik yang disebut mekanolunguistik atau linguistik komputer. Meskipun cabang atau bidang linguistik itu sangat luas, yang dianggap inti dari ilmu linguistik itu hanyalah yang berkenaan dengan struktur internal bahasa, atau cabang-cabang yang termasuk kelompok linguistik mikro di atas.
2.3 ANALIS LINGUISTIK
            Analisis linguistik dilakukan terhadap bahasa, atau lebih tepat terhadap semua tataran tingkat bahasa, yaitu fonetik, fonemik, morfologi, sintaksis, dan semantik.
2.3.1 Struktur, Sistem, dan Distribusi
            Bapak linguistik modern, Ferdianand de Saussure (1857-1913) dalam bukunya Course de Linguistique Generale (terbit pertama kali 1916, terjemahannya dalam bahasa Indonesia terbit 1988) membedakan adanya dua jenis hubungan atau relasi yang terdapat antara satuan-satuan bahasa, yaitu relasi sintagmatik dan relasi asosiatif. Yang dimaksud dengan relasi sintagmatik adalah hubungan yang terdapat dalam kalimat yang konkret  tertentu, sdangkan relasi asosiatif adalah hubungan yang terdapat dalam bahasa, namun tidak tampak dalam susunan satuan kalimat.
            Ada 3 fungsi sintaksis, yaitu, subjek, predikat, dan objek, yang mempunyai hubungan yang tertentu pula. Hubungan-hubungan yang terjadi di antara satuan-satuan bahasa itu, baik antara fonem yang satu dengan yang lain, maupun antara kata yang satu dengan kata yang lain, disebut bersifat sintagmatis. Jadi, hubungan sintagmatis ini bersifat linear, atau horizontal antara satuan yang satu dengan yang lain. Louis Hjelmslev, seorang linguis Denmark , mengambil alih konsep de Saussure itu, tetapi dengan sedikit perubahan. Beliau mengganti istilah asosiatif dengan istilah paradigmatic, serta memberinya pebgertian luas.
            Hubungan paradigmatik tidak hanya berlaku pada tataran morfologi saja, tetapi juga berlaku untuk semua tataran bahasa. Misalnya, kalua kalimat Dia mengikut ibunya kita bandingkan dengan kalimat Dia mengikat anjingnya, maka hubungan antara mengikut dan mengikat, dan hubungan antara ibunya dan anjingnya adalah bersifat paradigmatik. Firth, seorang linguis Inggris menyrebut hubungan yang bersifat sintagmatik itu dengan istilah struktur, dan hubungan paradigmatik itu dengan istilah system. Menurut Verhaar (1978) istilah struktur dan sistem ini lebih tepet untuk digunakan. Karena istilah tersebut dapat digunakan atau diterapakan pada semua tataran bahasa, yaitu tataran fonetik, fonologi, morfologi, sintaksis, juga pada tataran leksikon.
            Struktur adalah susunan bagian-bagian kalimat atau kontituen kalimat secara linear. Hubungan antara bagian-bagian kalimat tertentu dengan kalimat lainnya kita sebut sistem. Jadi, fakta adanya bentuk kata kerja aktif dalam suatu bahasa menyangkut masalah dalam bahasa tersebut. Fakta bahwa objek selalu terletak dibelakang predikat dalam bahasa Indonesia adalah masalah struktur dalam bahasa Indonesia adalah masalah struktur dalam bahasa Indonesia . Sistem pada dasarnya menyangkut masalah distribusi. Distribusi, yang merupakan istilah utama dalam analisis bahasa menurut nodel strukturalis Leonard Bloomfield (tokoh Linguis Amerika dengan bukunya Language, terbit 1933), adalah menyangkut masalah dapat tidaknya penggantian suatu konstituen tertentu dalam kalimat tertentu dengan konstituen lainnya.
            Subtitusi fonemis menyangkut penggantian fonem dengan fonem lain. Misalnya, dalam pasangan minimal dari Vs lari, kuda Vs kura, dan tambal Vs tambat. Distribusi morfemis menyangkut masalah penggantian sebuah morfem dengan morfem lain, misalnya, mengikut Vs diikut Vs terikut, daya juang Vs medan juang, dan tuna karya Vs tuna wisma. Distribusi sintaksis menyangkut masalah penggantian kata dengan kata, frase dengan frase, atau klausa dengan klausa lainnya.

2.3.2 ANALISIS BAWAHAN LANGSUNG
Analisi bawahan langsung, sering disebut juga analisis unsure langsung, atau analisis bawahan terdekat (Inggrisnya Immediate  Constituent Analysis) adalah suatu teknik dalam menganalisis unsur-unsur atau konstituen-konstituen yang membangun suatu satuan bahasa, entah satuan kata, satuan frase, satuan klausa, maupun satuan kalimat. Misalnya, satuan bahasa yang berupa kata dimakan. Unsur langsungnya adalah di dan makan. Meskipun teknik analisis bawahan langsung ini banyak kelemahannya, tetapi analisis ini cukup memberi manfaat dalam memahami satuan-satuan bahasa.
2.3.3 Analisis Rangkaian Unsur dan Analisis Proses Unsur
            Satuan-satuan bahasa dapat pula dianalisis menurut teknik analisis rangkaian unsure dan analisis proses unsur. Analisis rangkaian unsusr (Inggrisnya: Item-and-arrangement) mengajarkan bahwa setiap satuan bahasa dibentuk atau di tata dari unsusr-unsur lain. Misalnya, satuan tertimbun terdiri dari ter-+ timbun, satuan kedinginan terdiri dari dingin + ke-l-an. Berbeda dengan anallisis rangkaian unsure, maka analisis proses unsur (bahasa Inggrisnya: item-and-process) menganggap setiap satuan bahasa adalah merupakan hasil dari suatu proses pembentukan. Jadi, bentuk tertimbun dadalah hasil dari proses prefiksasi ter- dengan dasar timbun, bentuk kedinginan adalah hasil dari proses konfiksasai kel-l-an dengan dasar dingin. Kalau bentuk membangun adalah hasil prefiksasi me- dengan bentuk dasar bangun.
2.4 MANFAAT LINGUISTIK
Seperti sudah disinggung di muka bahwa linguistik akan member manfaat langsung kepada mereka yang berkecimpung dalam kegiatan yang berhubungan dengan bahasa, seperti linguis itu sendiri, guru bahasa, penerjemah, penyusun buku pelajaran, penyususn kamus, petugas penerangan, para jurnalis, politikus, diplomat, dan sebagainya. Bagi penerjemah, pengetahuan linguistik mutlak diperlukan bukan hanya yang berkenaan denagn morfologi, sintaksis, dan semantik saja, tetapi juga berkenaan denagn sosiolinguistik dan kontrastif linguistik. Bagi penyususn kamus atau leksikografer semua aspek linguistik mutlak diperlukan, untuk menyusun kamus dia harus mulai dengan menentukan fonem-fonem bahasa yang akan dikamuskannya.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar